Menggugat Peran PGRI Dalam Memperjuangkan Guru

PGRI perlu direformasi ? Sebuah pertanyaan yang sangat sering dilontarkan oleh banyak guru yang tidak puas dengan organisasi yang memayunginya tersebut. Seperti diketahui bahwa selama ini peran PGRI sangat tidak memuaskan. Pertanyaan tersebut sangatlah wajar karena selama ini PGRI sangat disokong oleh finansial yang didapat dari iuran yang dipotong dari Guru PNS di seluruh Indonesia yang berjumlah sekitar 2,5 juta diseluruh Indonesia. Berbeda dengan organisasi -organisasi profesi lainya seperti IDI (Ikatan Dokter Seluruh Indonesia), PGRI tampaknya tidak peduli dengan keadaan yang sering dihadapi oleh guru-guru seperti permasalahan yang menyangkut hukum, kesejahteraan maupun pendidikan.

Keterlambatan-keterlambatan pemberian tunjangan, manipulasi pendataan sertifikasi, maupun keterpurukan sekolah-sekolah yang bernaung di yayasan PGRI tampaknya tidaklah membuat para pengurus PGRI secara serius memperhatikan para anggotanya. Belum pernah terdengar seorang guru yang sedang mendapat permasalahan hukum dibantu oleh PGRI. Keterlambatan-keterlambatan tunjangan di berbagai daerah tingkat II juga terjadi terus menerus, bahkan melewati tahun anggaranpun PGRI tidak peduli. Perbedaan waktu pembayaran tunjangan-tunjangan antar daerah membuat kecemburuan guru-guru yang lambat laun akan menjadi bom waktu. Beberapa guru yang sedikit ekstrim bahkan menginginkan organisasi alternatif yang dapat bersaing memberi pelayanan dan bantuan terhadap anggotanya. Bukan menjadi rahasia umum PGRI baru terdengar gaungnya hanya saat ulang tahun dengan upacara guru-guru di ranting-ranting dan syukuran.  Membosankan….

                                                                                Omar Bakri, sang guru sejati.

Belum lagi kepedulian terhadap profesi guru itu sendiri, walaupun guru-guru honorer banyak (atau) tidak masuk menjadi organisasi PGRI namun guru honorer sangatlah penting perannya pada dunia pendidikan. Sekolah-sekolah swasta yang jumlahnya jauh lebih banyak dari sekolah negeri tentunya memberi gambaran bahwa guru-guru honorer sangat vital keberadaannya. Sertifikasi tidaklah mudah bagi guru-guru honorer, belum lagi gaji yang tidak manusiawi. Sebagian kecil guru honorer swasta memiliki gaji yang lumayan, tetapi sebagian besar dari mereka digaji dengan gaji yang tidak manusiawi sementara tuntutan pekerjaan sama persis dengan guru PNS. Ada di antara mereka hanya menikmati gaji berkisar 200-300 ribu rupiah perbulan, setara dengan uang tidur saat rapat beberapa anggota dewan sekali rapat bahkan mungkin kurang, atau mungkin setara dengan sekali uang makan siang seorang pejabat.

Sungguh mengenaskan, ketidakadilan di negeri ini. Seharusnya pemerintah dengan tekanan organisasi profesi guru membuat aturan penggajian guru-guru honorer ini paling tidak setara dengan UMR. Kalau tidak janganlah bermimpi menjadi negara yang adil makmur dengan anak-anak Indonesia yang cerdas. Alasan telah ada sertifikasi bukanlah sebuah jawaban, karena masalahnya banyak dari mereka secara administratif tidak dapat melengkapi kualifikasi sertifikasi secara administratif. Sebagai contoh : Syarat S1 atau pendidikan sertifikasi, bagaimana mau melanjutkan ke S1 atau mengikuti program pendidikan sertifikasi apabila gaji mereka hanya cukupuntuk beli 25 kg beras saja. Sertifikasi bukanlah jawaban, UMR bagi mereka adalah solusi karena kita tahu banyak yayasan-yayasan pendidikan yang bergelimang dengan uang sementara guru-guru mereka merintih. Ketergantungan akan sertifikasi dikhawatirkan akan memanjakan yayasan-yayasan pendidikan untuk lebih mencurangi dan memeras keringat para guru untuk memperbesar perut buncit mereka.

Sudah saatnya ada organisasi guru yang benar-benar memperjuangkan guru, bukan hanya sekedar organisasi seremonial atau justru menjadi perpanjangan kepentingan pihak tertentu untuk mengontrol guru, jaman sudah berubah bung, Omar Bakri sebagian telah mengendarai mobil mewah sementara Omar Bakri yang lainnya masih ngojek ……atau bahkan masih ngontel…..

About these ads

About 3wibowo

Indonesian
This entry was posted in Guru and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s