Kerajaan Tikusnesia

Alkisah di suatu tempat yang konon tanahnya subur dan kaya akan hasil alam berdiri sebuah kerajaan yang bernama Tikusnesia. Terdengar khabar bahwa rakyat yang tinggal di Tikusnesia sangatlah menderita, hingga banyak sekolah yang roboh, banjir, jalanan berlubang, jembatan runtuh, kereta api tabrakan, pesawat jatuh, kapal tenggelam dan para pemudanya tewas minum minuman keras oplosan. Belum lagi di kerajaan ini satu-satunya kerajaan yang buang air kecil pun harus bayar.

Terdengar khabar pula rakyat di kerajaan Tikusnesia selalu makan nasi putih dari beras berpemutih, ikan asin berpestisida, mie berformalin, bakso borak dan anak-anak setiap hari diracuni jajanan berwarna dari pewarna pakaian. Semua menjadi hal dianggap lumrah.

Berhembus pula khabar pencuri sandal jepit dituntut hukuman lima tahun, nenek pencuri 2 buah coklat diajukan ke pengadilan, pencuri dibakar massa, sementara koruptor selalu pura-pura sakit dan dituntut 2 s.d tahun penjara dan dijemput oleh aparat keamanan dengan mengeluarkan dana sekian miliar untuk menyewa pesawat. Para sipir penjara kerajaan sibuk dengan bisnis penyewaan TV, HP bahkan para PSK untuk para narapidana.

Sungguh mengerikan kisah kerajaan ini, hanya orang-orang yang berkuasa saja yang bisa duduk di bangku begitu mewah, empuk dan mahal, tak seperti rakyat jelata tidur beralaskan kardus makan pun tak tau apa yang bisa di makan, di kerajaan ini tak ada yang geratis, Bagai mana  bisa rakyat menangis berteriak lapar sedangkan kerajaan ini berdiri di tengah-tengah lahan yang subur ikan yang begitu melimpah di lautan yang luas, siapa yang salah, oww.. ternyata punggawa kerajaan yang salah tak pernah memberi alat untuk mengolah lahan yang luas ternyata punggawa kerajaan lebih suka beras kerajaan tetangga, lebih gurih dan lezat sepertinya.

Banyak karya yang di hasilkan rakyat tapi kenapa punggawa kerajaan selalu saja tutup mata tak ingin melihat, punggawa kerajaan begitu terpesona dengan produk tetangga dan menebusnya meski pun dengan harga tak lazim. Semakin deras tangisan rakyat menyaksikan punggawa kerajaan yang sedang mabuk belanja barang mewah milik kerajaan tetangga, memperindah singgasana dengan upeti rakyat.

Kapan punggawa kerajaan mengerti banyak anak-anak yang menangis menahan sakit karena tak lagi bisa berobat, orang-orang tua jumpo yang tak lagi mampu mencari makan sendiri, atau kapan punggawa kerajaan menyusuri jalan-jalan dan menanyakan apa yang rakyat butuhkan.

Ternyata tidak ada waktu lagi untuk melihat ke bawah, tidak ada yang penting di bawah kecuali saat-saat mereka membutuhkan suara, semua menebar senyum mendadak menjadi baik, gentong-gentong beras yang tadinya kosong mendadak berisi penuh, banyak uang-uang yang bertebaran di bungkus kertas putih tapi itu hanya musiman, dan kemudian rakyat menangis lagi.

Rakyat semakin terpuruk memikirkan nasib anak cucunya kelak, tak ada lagi lahan untuk di bagi tak ada lagi harta benda yang sanggup di wariskan, sekedar ilmu pun sudah terlampau mahal untuk di tebus, apalagi tanah yang luas dan harta-harta yang melimpah, warisan yang tak pernah hilang adalah cerita dari kerajaan itu sendiri yang tak pernah ada habisnya menutup hutang yang begitu besar, dan bayi yang baru lahir pun sudah di bebani dengan hutang, sungguh menyedihkan kerajaan Tikusnesia.

About 3wibowo

Indonesian
This entry was posted in Politik, Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s