Mayoritas Pejabat, Aparat dan PNS Pasti Masuk Neraka ?

Korupsi dan kolusi dua kata yang terlalu biasa disebut oleh orang-orang Indonesia. Sesuatu yang terkadang latah disebut oleh semua orang hingga tanpa sadar seorang koruptorpun baik itu kelas kakap maupun kelas teri di desa-desa secara lantang mengecam bahkan bersumpah serapah pada para koruptor. Sudah tidak jelas mana kawan mana lawan, para koruptor bahkan telah menduduki tempat terhormat di masyarakat. Sumbangan ke fakir miskin, sumbangan ke rumah ibadah, membeli beberapa hewan Qurban biasa mereka lakukan dengan bangganya. Masyarakatpun seolah ‘tertipu’ oleh penampilan para koruptor ini. Mereka selalu disanjung atas kebaikannya terutama karena kemurahan hati yang berhubungan dengan harta benda (sangat wajar, karena bukan milik sendiri alias hasil korupsi). Logika berfikir masyarakatpun sudah buntu, bagaimana seseorang dengan gaji PNS atau aparat yang sudah jelas jumlahnya, bisa membeli mobil mewah dan berganti-ganti setiap tahun, membangun rumah mewah walaupun memang ada di antara mereka yang ‘nyambi’ jadi pengusaha tapi jangan-jangan modal usahanya berasal dari menabung uang panas atau paling tidak jabatan mereka sangat mempengaruhi usaha sampingan mereka.

Mobil mewah, tidak mungkin para pejabat dapat membeli mobil semacam ini kalau hanya mengandalkan gaji mereka.

Sudah bukan menjadi rahasia umum setiap lini pada segala bidang mulai dari kesehatan, pendidikan, keamanan, bahkan keagamaan sudah terbelit korupsi dan kolusi yang sistematis. Seorang pejabat atau pegawai baru yang lugu biasanya akan sedikit ‘kaget’ saat menerima uang di luar gaji mereka. Saat mereka bertanya uang apa ini, bawahan akan menjawab uang ini dan itu Pak, sudah biasa kalau di sini. Sangat sistematis dan terbentuk dalam beberapa dekade sejak tumbangnya Orde Lama. Belum lagi korupsi yang diniati alias korupsi yang bukan sistematis tetapi kasuistis pada saat tertentu saja. Biasanya korupsi model begini berupa success fee atau orang kampung bilang uang ucapan terimakasih.

Dunia malam tempat para koruptor dan keluarga para koruptor menghambur-hamburkan harta rakyat. Di siang hari bisa saja mereka tampil sebagai tokoh masyarakat yang ‘disegani dan dihormati’ karena uangnya.

Orang selalu membela diri bahwa sudah menjadi sesuatu yang wajar kalau pejabat mendapat uang ‘terima kasih’ dari para pengusaha yang mengerjakan proyek pemerintah. Seseuatu pembelaan diri yang naif, bodoh dan memalukan. Seharusnya mereka berfikir bahwa seseorang ia sudah digaji cukup plus uang jabatan untuk mengurus bidang itu dan secara logika tidak akan ada pengusaha yang mau memberi uang keuntungan mereka, mereka pasti memberi success fee dari penggelapan proyek itu sendiri hingga wajar apabila banyak jalan berlubang, sekolah ambruk, bendungan jebol, obat rumah sakit mahal, mengurus surat-surat mencekik leher. Maka sangat pantas pejabat, aparat atau pegawai macam begini termasuk prioritas untuk masuk neraka. Pernah seorang pejabat tersangka penyuap untuk jabatan tertentu di Bank Indonesia dengan enteng berkata ; “buat apa apa saya menyuap untuk jabatan itu, gajinya kan kecil”. Semua orangpun tahu bahwa gaji kecil tapi sampingannya  luar biasa….!

                        Gedung-gedung aset negara seringkali dikomersilkan untuk kepentingan sekelompok orang

Korupsi lainnya yang menhinggapi hampir semua instansi adalah penyalahgunaan aset-aset negara bukan demi kesejahteraan rakyat melainkan demi sekelompok masyarakat yang telah digaji oleh rakyat. Mengatasnamakan peningkatan kesejahteraan intern para pejabat atu atasan berlomba-lomba memanfaatkan aset-aset ‘menganggur’ seperti tanah-tanah kosong untuk dimanfaatkan untuk kepentingan komersil. Maka tidak heran di Indonesia pada umumnya banyak instansi yang mempunyai gedung-gedung yang disewakan untuk pernikahan, gedung penyewaan olahraga dan penyewaan alat-alat lainnya. Sudah barang tentu pemasukan dari hasil ini tidak akan diaudit pemerintah karena bukan berasal dari APBN. Tidak heran instansi-instansi sekarang berlomba-lomba menjadi perusahaan-perusahaan terselubung yang rakus dan lupa bahwa aset modal adalah milik rakyat. Parahnya hasil dari usaha model begini dinikmati oleh seluruh pegawai atau aparat dengan porsi yang berbeda. Maka seorang pegawai atau aparat yang jujurpun akan menikmati uang seperti ini. Maka dari itu seorang pegawai atau aparat ‘jujur’ pun belum tentu lepas dari jilatan api neraka, karena tidak semua harta dari mereka bersih.

Ilustrasi : Alat kesehatan bantuan semacam ini yang menjadi dalih biaya kesehatan mahal

Belum lagi unit-unit pelayanan masyarakat yang berhubungan langsung dengan masyarakat seperti rumah sakit, sekolah, kelurahan, kantor polisi, bahkan universitas yang notabene merupakan tempatnya oran-orang intelekpun tidak lepas dari korupsi alias pungli yang dilakukan oleh oknum-oknumnya. Dengan dalih otonomi kampus mereka menjadikan perguruan tinggi sebagi mesin uang pencetak tenaga kerja tidak siap pakai terbukti dengan makin banyaknya pengangguran, di sekolah-sekolah terjadi penyunatan dana BOS yang disinyalir dikelola secar sistematis oleh sekelompok orang yang mempunyai wadah organisasi resmi. Banyak sekali masyarakat dipedesaan yang gemetar apabila akan berobat ke rumah sakit bukan karena sakitnya namun karena ketakutan akan biaya tagihan berobatnya. Sangat sering kita lihat para sales obat lalu lalang di rumah sakit dihadapan para pasien. Belum lagi  fee pembelian obat bagi para dokter nakal. Dokter komersil sudah menjadi cap bagi mereka yang selalu mengeluarkan obat-obat tertentu yang sebetulnya kadang-kadang bisa digantikan dengan obat yang lebih murah. Kadang terdengar lucu saat seorang pejabat rumah sakit pemerintah memberikan statetment bahwa biaya berobat sangat mahal karena harga alat-alat kedokteran sangat mahal dan didatangkan dari luar negeri. Pejabat itu berstatement seolah-olah modal pembelian tersebut dari dompet mereka padahal jelas-jelas alat tersebut dibeli dari APBN atau APBD yang jelas-jelas uang rakyat. Namun saat masyarakat akan menggunakannya mereka dikenai seperti hanlnya mereka berobat ke rumah sakit swasta. Komersialisasi rumah sakit pemerintah sangat terlihat jelas !!

Pengangguran di Indonesia, diperas sana sini.

Pada level terendah di RT-RT banyak para oknum ketua RT dengan bahasa yang halus melakukan praktek korupsi, walaupun iuran RT telah tercakup biaya ATK (alat tulis kantor) namun mereka dengan cara halus menaruh kotak sumbangan di meja mereka, maka tak heran apabila para pengangguran yang akan mencari kerja adakalanya harus mengeluarkan biaya yang cukup mahal untuk ukuran pengangguran, belum lagi di RW, Kelurahan, Kecamatan, Dinas Ketenagakerjaan, mengurus kelakuan baik dan lain sebagainya. Rata-rata seorang pencari kerja sudah pernah puluhan kali melamar kerja maka dapat dipastikan sudah jutaan  rupiah keluar dari kantungnya dalam kurun waktu tertentu. Apabila ada puluhan juta pengangguran di Indonesia dan  seorang pengangguran pernah mengeluarkan jutaan rupiah yang dikeluarkan dari beberapakali ia mendaftar pekerjaan maka dapat dibayangkan berapa digit uang yang mengalir karena pungli. (misal : berdasarkan data, pengangguran 2011 sekitar 8 jt orang, satu orang pernah mengeluarkan Rp. 1 jt untuk mengurus surat-surat untuk beberapa kali lamarannya, maka, 8.000.000 x Rp. 1.000.000,- = Rp. 8.000.000.000.000 atau 8 trilyun rupiah). 8 trilyun rupiah  pungli yang dipungut oleh  oknum pegawai dan aparat dari hanya segolongan rakyat saja, yaitu golongan pengangguran yang nota bene kaum yang paling menderita. Dapat kita bayangkan jumlah pungli yang mereka lakukan terhadap para pengusaha yang merupakan ladang uang. Pungli juga terjadi di jalanan, instansi pemerintahan, aparat keamanan dan beberapa tempat yang apabila disebutkan satu persatu anda mungkin akan tertidur membacanya. Salah besar kalau selama ini orang menganggap Italia atau Kolombia sebagai negara mafia. Indonesia adalah negara mafia terbesar di dunia. Mulai dari masalah parkir hingga proyek nasional sudah pasti ada mafianya, Apakan Anda bagian dari itu ?

Kapal Indonesia akan tenggelam karena digerogoti tikus.

Ibarat sebuah kapal, Indonesia ini sudah seperti kapal yang akan tenggelam karena digerogoti oleh tikus-tikus, sementara para aparat pemberantas tikuspun sebagian sudah menjadi tikus, maka saran saya adalah segera lompat keluar selamatkan diri masing-masing, kalau tidak kitapun akan menjadi tikus. Mudah-mudah dengan kita dapat membuat kapal baru yang bernama Indonesia baru, dan biarkan kapal penuh tikus tadi menuju lautan neraka. Itulah yang penulis ingin lakukan karena penulis tidak ingin jadi tikus…!

Catatan :

Bagi Pejabat, Aparat dan PNS yang jujurpun harus selalu interopeksi dan berusaha membersihkan hartanya dengan zakat dan sedekah , karena gaji diambil dari APBN yang bersumber dari pajak yang diantaranya juga berasal dari pajak minuman keras, pajak tempat hiburan malam bahkan PBB dari lokalisasi pelacuran. Kita semua harus selalu berjuang menuntut DPR untuk menghapus minuman keras, pelacuran dan judi dari bumi Indonesia agar harta kita bersih dan anak istri kita makan dari makanan yang halal. (Lagi-lagi ujung-ujungnya DPR, merekalah yang akan bertanggungjawab kelak..karena kita sudah lelah berteriak dan mereka tuli……..)

About 3wibowo

Indonesian
This entry was posted in Indonesia, Korupsi, Politik and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s